Jan
30
2012

Kebiasaan yang merusak kondisi keuangan

Manusia adalah kumpulan kebiasaan-kebiasaan kecil, kebiasaan yang bermula dari hal-hal yang dimulai sesekali kemudian menimbulkan rasa ketagihan hingga akhirnya berulang-ulang dilakukan. Ketika berulang-ulang dilakukan maka yang terjadi adalah bagian tubuh kita tempat kita berpikir menjadi begitu terlatih melakukannya sehingga akhirnya apa yang dilakukan itu menjadi sangat otomatis bahkan hampir dapat dikatakan dilakukan tanpa disadari. Yang kita pikirkan hanyalah bagaimana hal tersebut bisa mendorong kita melakukannya tanpa kita bisa menghentikannya.

Sebenarnya tidak ada kebiasaan baik ataupun buruk, yang ada adalah kebiasaan yang akan membawa kita menuju ke tujuan utama kita dalam kehidupan, atau bahkan membawa kita menjauhi tujuan kita. Problemnya adalah karena kebiasaan bersifat sangat otomatis, maka sering kali pengetahuan semata tidak sanggup atau cukup mudah untuk membuatnya berubah. Dibutuhkan motivasi dari dalam yang sangat besar, serta menggantikan kebiasaan yang kurang sesuai dengan tujuan kita dengan kebiasaan lainnya yang lebih sesuai dan sejalan.

Menyembunyikan pengeluaran dan penghasilan tertentu dari pasangan adalah salah satu contoh selingkuh

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang cukup mengganggu yang dirangkum oleh DR. Ted dan Brad Klontz yang bisa mempengaruhi kondisi keuangan dari yang ringan hingga yang berat:

Belanja kompulsif
Kebiasaan belanja kompulsif ditandai dengan obsesi terhadap aktivitas belanja dan membeli, perilaku ini mendorong pelakunya untuk membelanjakan uang baik yang dimilikinya atau bahkan bisa saja uang yang belum atau tidak dimiliki. Di dunia yang sangat konsumtif seperti saat ini, kebanyakan pola belanja kompulsif didorong oleh motivasi untuk identitas dan status atau sosio ekonomi, untuk memperlihatkan kemampuan dan rasa percaya diri, tetapi tidak menutup kemungkinan sebagai penyeimbang emosional, karena pada orang yang melakukan belanja kompulsif perilaku belanja menjadi saat yang sangat dinantikan, didambakan dan menimbulkan kepuasan luar biasa dan rasa senang yang membebaskan dirinya dari rasa cemas dan stress dan sering kali disebut sebagai terapi belanja.

Berjudi dan berspekulasi
Kebiasaan ini tidak hanya berjudi secara harfiah, tetapi juga bisa terjadi ketika seseorang berpikir bahwa dia melakukan investasi padahal sesungguhnya dia berspekulasi. Berharap dalam waktu dekat pilihan investasinya akan meningkat dengan cepat dan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat dan berlipat-ganda. Orang yang melakukan spekulasi adalah orang yang senang tertantang dan cenderung menyukai risiko, motto mereka adalah “keuntungan sebesar-besarnya atau rugi”. Berspekulasi secara terstruktur pada dasarnya tidak berbahaya, problemnya adalah ketika risiko yang ditanggung sangat besar dan cenderung membahayakan kondisi keuangan secara keseluruhan. Berspekulasilah sesuai dengan kemampuan dan kapasitas keuangan.

Berjudi dan berspekulasi dapat mengakibatkan ketagihan, ketika kalah orang yang melakukan spekulasi cenderung untuk terdorong melakukan spekulasi lebih jauh untuk mengurangi tingkat kerugian yang ditimbulkan sebelumnya, sedangkan untuk yang berhasil maka orang tersebut cenderung memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk kemudian berspekulasi lebih besar lagi.

Menimbun
Orang yang menimbun memiliki kecenderungan terikat kepada barang-barang milik pribadinya. Hal ini bisa ditandai dengan kondisi di rumah. Seorang penimbun bisa saja menimbun barang-barang yang kemungkinan sudah tidak terpakai yang sesungguhnya dapat bermanfaat untuk orang-orang lain di sekitarnya. Motto mereka adalah “suatu saat nanti jika dibutuhkan”. Sehingga akhirnya kondisi rumahnya dipenuhi dengan barang-barang usang yang tak terpakai. Dampak dari kebiasaan menimbun adalah rasa cemas akan kekurangan, ketakutan, dan kikir dan rasa tidak pernah cukup akan uang dan harta yang dimiliki.

Ketergantungan finansial
Kebiasaan keuangan yang satu ini dapat berbentuk berbagai hal, termasuk bergantung secara keuangan kepada pasangan, kepada orangtua, perusahaan atau bahkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan keuangannya. Perilaku ini mengakibatkan rasa rendah diri, incompetent di dunia kerja dan mengganggu kreativitas diri.

Pengingkaran
Pengingkaran adalah mekanisme pertahanan klasik yang didesain untuk mengurangi kegelisahan dan rasa malu tentang kondisi diri. Pengingkaran terjadi ketika kita berusaha mengurangi masalah keuangan dengan mencoba sebisa mungkin untuk tidak memikirkan kondisi keuangan kita daripada berusaha menghadapi kenyataannya. Orang yang melakukan pengingkaran sering kali takut atau enggan untuk melihat saldo tabungannya, melihat tagihan kartu kredit ataupun membicarakan kondisi keuangan mereka dengan pasangan. Pengingkaran finansial hampir selalu menimbulkan efek buruk. Motto mereka adalah “jika aku tidak membicarakan atau mengetahuinya, maka kemungkinan besar tidak akan ada masalah”. Akibatnya, masalah yang ada akan terus ada dan justru cenderung berlarut-larut hingga memburuk.

Selingkuh
Menyembunyikan pengeluaran dan penghasilan tertentu dari pasangan adalah salah satu contohnya. Tidak bisa dihindari kebanyakan pasangan sulit untuk membicarakan masalah keuangan karena uang adalah salah satu topik yang sensitif dan emosional antar pasangan. Beberapa orang bahkan bisa saja melakukan pembelian rumah atau kendaraan kedua tanpa persetujuan pasangan, melakukan investasi berisiko yang tidak diketahui pasangan hingga keputusan bisnis dan karier.
Ketika terkuak, kejadian ini bisa mengganggu harmonisasi rumah tangga dan hubungan dengan pasangan dan menghapus kepercayaan. Dan meskipun perselingkuhan ini tidak terkuak pun, adalah tidak sehat untuk hidup bersama dalam kondisi penuh kerahasiaan dan kebohongan.

Sulit menolak
Kebiasaan ini adalah kebiasaan keuangan yang cenderung hadir pada diri seseorang atas dasar sikap irasional untuk membantu orang lain secara finansial baik dia mampu melakukannya ataupun tidak mampu melakukannya dan bahkan meskipun bantuannya itu tidak berdampak positif terhadap diri orang yang ia bantu. Biasanya kebiasaan ini muncul akibat mengaitkan uang dengan kasih sayang, membuat orang yang dibantu tetap berada dekat di sekitar mereka bahkan mungkin hingga bisa dikendalikan meskipun biasanya akhirnya orang yang dibantu menjadi tergantung secara finansial kepada mereka. Sering kali tujuan mereka baik, tetapi hasilnya tidak. Sebut saja misalnya adalah bantuan orangtua yang diberikan kepada anak mereka ketika mereka sudah dewasa, akhirnya semakin sulit bagi anak itu untuk mengembangkan kemampuan finansialnya. Ia akan menjadi kerdil baik secara finansial maupun emosional.

Kebiasaan-kebiasaan keuangan tersebut muncul dari berbagai latar belakang seseorang, lingkungan, pendidikan dan pola asuh orangtua serta program yang sudah tertanam di bawah sadarnya. Penting untuk mengetahui berbagai kelainan keuangan ini agar kita bisa belajar darinya dan bertindak lebih waspada di kemudian hari, meskipun mungkin program kebiasaan ini masih dapat hadir dalam kehidupan seseorang terutama di saat seseorang itu tertekan.

Budi Raharjo CFP MCHT
Independent Financial Planner
One Consulting

Events Calendar

September  2017
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30