Feb
18
2012

Beda masalah, beda solusi

“Tring….!” Ringtone berbunyi dan layar hape pun berkedap-kedip minta dibaca. Sekilas kulihat jam dinding yang sudah mulai menunjukkan hampir jam 10 malam. Biasanya di saat biasa jarang sekali hape berbunyi malam-malam seperti ini. Tapi mungkin sekarang batasan larut malam bergeser sedikit lebih panjang.

Sebuah SMS yang cukup panjang masuk ke dalam inbox saya ”perkenalkan nama saya A****, 23 thn, saya bekerja di PT S***** Indonesia, dan saya sedang melanjutkan ke jenjang S1, saya sangat bermasalah dengan keuangan. Penghasilan saya 2jt/bln. Pengeluaran saya untuk transportasi 25rb/hari, kirim ortu 500rb, …………”

Wah, kalau saya hitung kok total pengeluarannya sekitar 2,5 juta ya. Sedangkan pemasukannya sendiri hanya 2 juta rupiah. Kok bisa begini ya? Ah, mungkin saya salah baca kali. Oke saya baca kembali sms yang tadi dengan lebih teliti.

Ooo…, ada kalimat terakhir yang menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Ternyata, dulunya ia kerja di perusahaan lain dengan penghasilan Rp 3 juta per bulan. Setelah pindah ke tempat kerjanya sekarang sejak beberapa bulan yang lalu, penghasilannya turun jadi Rp 2 juta saja.

Saya tidak bisa banyak menjawab dengan detail pertanyaan yang diajukan via SMS karena datanya juga terbatas. Saya hanya menekankan padanya untuk mengevaluasi kembali pengeluarannya selama ini. Yang menarik perhatian saya adalah pengeluaran transportasinya yang cukup besar. Yaitu sebesar Rp 25 ribu per hari. Bisa dibilang ini pengeluaran rutin yang paling besar yang masih bisa diatur kembali. Selain itu, biaya kuliah juga perlu dilihat apakah harus dibayar per bulan, atau bisa dibayar per semester.

Tidak lama setelah jawaban itu saya kirim. Sebuah SMS kembali masuk dari pengirim yang sama. Begini isi SMS tersebut “Saya ada tabungan 2jt, investasi apa yang paling cocok untuk saya yang menguntungkan untuk mengatasi kesulitan keuangan saya?” Wah, kalau ini saya rasa ia sudah mulai kehilangan fokus masalah, sehingga juga mencari solusi yang salah.

Kalau kita lihat lagi, masalahnya adalah karena ada perubahan penghasilan yang tadinya Rp 3 juta, turun menjadi Rp 2 juta. Sedangkan pengeluarannya masih sama seperti dulu ketika gajinya masih Rp 3 juta. Maka wajar saja kalau masalah defisit itu terjadi. Itulah pokok masalahnya. Maka solusinya adalah mengubah juga pengeluarannya, agar sesuai dengan penghasilan yang sekarang.

Menambah kembali penghasilan juga bisa jadi solusi, tapi itu tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, memang perlu dicari cara agar bisa meningkatkan penghasilan. Tapi dalam jangka pendek, mengurangi pengeluaran tidak boleh ditawar lagi.

Ibarat seseorang yang kecelakaan lalu mengalami luka pendarahan yang cukup hebat. Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan dulu pendarahannya, agar tidak bertambah parah kondisi fisiknya karena kekurangan darah. Sesudah itu, barulah tindakan lainnya dilakukan sesuai dengan luka yang dialaminya.

Nah, dalam kasus di atas, inti masalahnya adalah adanya defisit untuk pengeluaran rutin setiap bulan sebesar Rp 500 ribu. Investasi sehebat apa pun tidak akan menyelesaikan masalah kalau inti masalahnya tidak diselesaikan terlebih dahulu. Karena tidak mungkin kita bisa mengharapkan hasil rutin dan pasti Rp 500 ribu per bulan dengan modal Rp 2 juta. Dengan modal yang lebih besar pun, jalan ini dirasa kurang bijak, apalagi dengan hanya 2 juta saja.

Memang bisa saja kita mendapatkan hasil Rp 500 ribu per bulan dari investasi saham dengan modal Rp 20 juta misalnya. Tapi itu jelas tidak bisa diharapkan secara pasti dan rutin setiap bulan. Kalaupun berhasil 1-2 bulan pertama, tapi kalau bulan berikutnya tidak mendapatkan hasil sebesar itu, nantinya malah akan digerus modal investasinya oleh defisit tadi.

Maka lupakan dulu solusi berinvestasi untuk menutup defisit, karena lubangnya sudah terlalu besar untuk ditutup dengan investasi yang tak seberapa. Hentikan dulu aliran airnya dengan cara mengevaluasi lagi pengeluaran. Jika itu sudah dilakukan, baru kita tutup permanen dengan investasi yang lebih paten.

Langkah pertama untuk mencari solusi, adalah dengan memahami dengan baik permasalahan yang dihadapi. Karena jika salah mendiagnosis masalah, maka solusi yang muncul sangat mungkin tidak tepat bahkan mungkin bisa memperburuk masalahnya. Sekali lagi, deteksi akan masalahnya di mana. Lalu cari solusi yang tepat untuk menyelesaikan akar masalahnya terlebih dahulu sebelum menyelesaikan masalah ikutan lainnya.

Ahmad Gozali
Financial Planner
Zelts Consulting

 

Events Calendar

September  2017
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30