Mar
28
2012

Good money habits untuk anak Anda

Memberikan  jajan pada anak Anda adalah hal yang biasa untuk dilakukan, namun pernahkah terpikir bahwa pemberian jajan tersebut bisa mempengaruhi karakter finansial anak yang bisa terbawa sampai dewasa. Seperti kepribadian atau karakter yang luhur bisa terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang baik, demikian juga dengan kebiasaan menggunakan uang sejak dini.

Seperti apa kebiasaan keuangan anak Anda kelak? menjadi seseorang yang konsumtif atau seorang yang cermat mengelola keuangan? Hal tersebut perlu pengarahan sejak dini, agar anak Anda tidak salah melangkah dalam mengambil keputusan yang menyangkut keuangan kelak.

Mengapa kita memberikan uang jajan pada anak? Pada umumnya, orangtua membekali anak  dengan uang jajan agar si anak bisa memenuhi kebutuhan makan minumnya di sekolah. Namun, apakah hal ini disadari betul oleh si anak? Jika tidak maka bisa terjadi kesalahpahaman dari arti pemberian uang jajan, bisa jadi anak malah menganggap itu adalah “jatah”-nya sehingga ia akan menuntut diberikan uang jajan meskipun kebutuhannya sudah terpenuhi.

Atau bisa jadi uang jajannya malah dibelikan makanan yang tidak sehat atau pun barang yang kurang bermanfaat karena anak hanya ingin melakukan transaksi seperti teman-temannya. Oleh karena itulah, motif yang benar dan sepaham perlu disepakati terlebih dahulu sebelum mulai memberikan uang pada anak.

Kapan saat yang tepat untuk mulai memberikan uang?  Pada saat seorang anak mulai mempunyai keinginan secara materi maka ia akan mencari atau meminta uang jajan. Sebaiknya, pemberian uang jajan juga diiringi dengan pesan agar anak tidak sembarangan menggunakan uang jajannya tersebut.

Di sinilah peran orangtua yang bijak dibutuhkan untuk mengenalkan kepada anak konsep uang dan manfaat dari penggunaan uang tersebut, serta tujuan dari pemberian uang jajan. Hal ini perlu dilakukan sedini mungkin, di usia 6 -7 tahun misalnya, di saat nasihat dari Anda masih didengarkan dengan antusias.

Jumlah uang jajan yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhannya, untuk itu Anda perlu mencari tahu berapa harga-harga jajanan sehat yang dijual di kantin sekolah, agar anak Anda bisa membeli dan terlaksananya tujuan dari pemberian uang jajan. Jangan lupa, untuk memberikan ruang agar anak bisa menabung dari uang jajannya sendiri.

Karena dari kegiatan menabung juga ada kebiasaan baik yang bisa dipupuk. Misalnya saja, anjurkan anak untuk membagi uang jajannya ke dalam 3 toples, masing-masing toples mempunyai tujuan keuangan, contohnya menabung, beramal dan jajan. Toples ini diwajibkan diisi sesaat setelah menerima uang jajan. Nah, kalau sudah terbiasa menabung di awal ketika baru saja mendapatkan uang jajan, diharapkan juga demikian di saat Ia sudah mempunyai penghasilan sendiri.

Kegiatan menabung bagi anak perlu dilakukan dengan menyenangkan, orangtua bisa menjelaskan untuk apa uang tabungan dikumpulkan misalnya ketika ingin membeli mainan yang diinginkan anak, dananya  bisa ambil dari tabungan sehingga anak lebih bersemangat dalam menabung.  Supaya tidak mudah di ambil kembali oleh anak, uang tabungan sebaiknya disimpan oleh orangtua, anak bisa mengetahui  lewat saldo buku tabungan yang dicatat setiap kali ada pemasukan atau penarikan dari tabungan. Sebaiknya dipakai istilah uang saku agar anak ingat sebagai uang yang harus ada atau disimpan di saku, bukan uang yang harus habis untuk dijajankan.

Uang saku dapat diberikan secara mingguan atau bulanan, setelah anak dapat mengelola uang saku hariannya dengan baik. Jika ternyata uang saku mingguan atau bulanannya habis sebelum waktunya, jadikan kejadian ini sebagai pelajaran bagi si anak untuk lebih cermat lagi dalam mengelola uangnya.

Diharapkan orangtua tidak melanggar aturan yang telah dibuat, jika telah menetapkan 1 minggu misalnya, maka dalam 1 minggu ke depan  baru akan memberikan uang lagi. Bila anak sudah cukup bertanggungjawab, bisa diberikan kepercayaan lebih untuk mengurus kebutuhan finansialnya yang lain seperti membeli buku, membayar uang les atau uang sekolah, namun check and balance tetap diperlukan.

Sebagai orangtua, ada kalanya ingin memberikan reward  kepada anak. Reward sebaiknya tidak dalam bentuk uang secara langsung. Dalam memberikan reward sebaiknya orangtua bisa memilih mana tindakan anak yang memang adalah kewajibannya dan mana yang memang merupakan prestasinya, sehingga anak bisa menghargai arti kerja sama dalam keluarga, dan tidak menjadi mata duitan. Atau reward yang diberikan tidak langsung berupa uang, tapi point yang dikumpulkan dalam bentuk bintang atau nilai yang bisa ditukarkan dengan uang yang dapat menambah jumlah tabungannya.

Dengan mengajarkan pengelolaan yang baik terhadap uang sakunya, anak diharapkan mengerti needs yang dibutuhkan dan wants yang merupakan keinginan, dan semoga kelak bisa membuat perencanaan yang cermat, tidak bergaya konsumerisme dan semoga tidak perlu berurusan dengan debt collector.

Do and Don’t

  1. Ajari anak untuk membedakan needs and want, sehingga ia bisa memutuskan sendiri yang kebutuhan yang akan diprioritaskan.
  2. Anak adalah great imitator atau peniru ulung, jadi jangan sampai anak malah kebingungan misalnya Anda melarang belanja mainan tapi Anda sendiri belanja baju, sepatu, aksesori yang bukan kebutuhan. Larangan tanpa contoh akan membuat anak Anda bingung.
  3. Jangan terlambat, misalnya menasihati ketika sudah dewasa, nasihatnya malah mental. Nasihati ketika Anda masih didengarkan.
  4. Jangan jadikan uang sebagai pencuci kurangnya perhatian Anda. Uang tidak akan bisa menggantikan cinta dan perhatian orangtua terhadap anaknya.
  5. Supaya tidak jajan banyak, usahakan selalu pergi ke sekolah dalam keadaan perut sudah terisi, atau bahkan langganan katering dengan kantin sekolah.

 

Diana Sandjaja
Advisor
MRE Financial & Business Advisory

Events Calendar

June  2017
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30