May
1
2013

Menabung sebagai awal dari investasi

Dari kecil seringkali kita dinasihati untuk rajin menabung agar kelak tidak kekurangan. Dengan menabung , maka diharapkan bisa mengendalikan diri agar tidak berperilaku boros, dimana boros merupakan sifat buruk yang harus dihindari. Lawan dari boros adalah hemat. Ada pepatah “Hemat pangkal Kaya”, tentunya orang yang hemat bakal menjadi kaya. Kenapa begitu? Biasanya orang yang rajin menabung, karena hidupnya hemat dan tidak boros, pada akhirnya bisa memperoleh harta atau aset yang diinginkan. Kaya sendiri diartikan sebagai orang yang banyak harta. Tapi betulkah dengan menabung saja bisa menjadi kaya?

Pepatah tersebut janganlah dimaknai sesederhana itu. Makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih luas. Dengan Menabung bisa berarti bahwa seseorang

  • sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan
  • mempunyai  tujuan keuangan yang ingin dicapai
  • membuat perencanaan keuangan ke depan

Istilah menabung yang dikenal biasanya adalah dengan menyisihkan uang yang dimiliki kemudian dikumpulkan sehingga jumlahnya terus bertambah. Uang yang ditabung disimpan dalam celengan, tabungan di bank, tabungan bersama  pada sebuah komunitas (arisan)dan lain-lain. Apa pun namanya, pada intinya merupakan suatu cara untuk pengakumulasian uang sedikit demi sedikit dengan harapan akan terkumpul menjadi suatu jumlah yang lebih banyak yang nantinya mempunyai manfaat lebih banyak.

Kebiasaan menabung merupakan hal yang baik, namun sayang dengan seiring laju inflasi yang tidak terkejar dengan meningkatnya nilai uang, pada kenyataannya nominal uang tabungan −yang sudah susah payah dikumpulkan setelah sekian lama– merosot nilainya.

Sebagai contoh coba kita bandingkan dengan harga emas yang berlaku. Jika mulai tahun 2008 menabung sebesar Rp 200.000 per bulan di mana pada saat itu harga emas murni batangan di kisaran Rp 180.000 per gram, maka boleh dikatakan pada saat itu nilai uang yang ditabung setara dengan 1 gram emas murni.  Selanjutnya setelah berjalan selama 60 bulan – dengan asumsi bunga bank adalah 4% per tahun dan mengabaikan bea serta pajak yang timbul – maka hasil tabungan ±Rp 13.260.000.

Coba dibandingkan dengan emas murni. Jika tadi dikatakan tabungan per bulan adalah setara dengan 1 gram emas murni, tentunya saat ini sudah terkumpul uang yang nilai kurang lebih sama dengan 60 gram emas murni. Saat ini harga emas adalah di kisaran Rp.500.000,- per gram, dengan begitu untuk 60 gram emas = Rp.30.000.000,- ….. Jauh sekali kan selisihnya dengan nilai tabungan tadi.

Nah, untuk itulah maka kita harus cerdas dalam menabung. Bukan sekadar mengakumulasi sejumlah uang, tapi mencari investasi yang mampu melawan inflasi.

Kebiasaan MENABUNG merupakan awal dari melakukan Investasi. Jika seseorang sudah mempunyai kebiasaan menabung, tentunya tidak akan sulit untuk melakukan Investasi. Pada intinya berinvestasi juga mengakumulasikan dana dengan harapan bahwa nantinya akan terkumpul menjadi sebuah nominal tertentu yang lebih banyak. Namun Investasi memasukkan pertimbangan agar nilai uang tidak tergerus oleh inflasi.

INVESTASI adalah MENABUNG dengan cara yang lebih cerdas… yang tentu saja harus memperhatikan risiko yang timbul.

Ambil contoh berinvestasi di Reksadana (RD). Jika secara rutin dialihkan anggaran untuk menabung dengan membeli RD Campuran, dengan contoh di atas misal asumsi pertambahan nilai RD Campuran “X” adalah 11% per tahun ,maka selang 60 bulan dana yang diinvestasikan menjadi sekitar Rp.15.900.000,- . Selisih dana yang ada cukup lumayan jika dibandingkan dengan hanya menabung biasa.

Ada banyak macam pilihan untuk Investasi. Bisa dalam bentuk Emas (batangan ataupun perhiasan), Properti, reksadana, barang koleksi , dan lain sebagainya. Masing-masing mempunyai keuntungan dan risiko sendiri-sendiri. Karenanya wajib untuk mengenal setiap jenis Investasi dengan  benar agar tahu juga risiko yang bakal dihadapi.

Sebelum melakukan Investasi yang harus diingat adalah

  • profil masing-masing individu : berani mengambil risiko atau mau yang aman saja atau hanya setengah agresif
  • tujuan keuangan yang hendak dicapai dengan investasi , sehingga bisa ditetapkan berapa nominal dana nantinya yang harus terkumpul
  • berapa lama waktu yang ada untuk mencapai tujuan (misal 1 tahun, 5 tahun, 20 tahun dan seterusnya)

Selanjutnya mulai memilih jenis investasi apa yang dirasa sesuai. Kumpulkan info mengenai instrumen investasi yang diminati sesuai dengan pertimbangan di atas. Pengetahuan dan pemahaman tentang instrumen investasi yang dibidik merupakan hal yang wajib. Jangan sampai asal ikut hanya karena iming-iming return yang tinggi. Jika ada yang menawarkan return tinggi dalam waktu singkat …. perlu dipertanyakan.

Dengan penjelasan di atas bisa dikatakan bahwa

MENABUNG merupakan awal dari sebuah INVESTASI.

INVESTASI adalah langkah cerdas MENABUNG.

 

“INVESTASI  pangkal KAYA” …… mari berinvestasi.

 

Novrita Savitri
Konsultan Perencana keuangan Independen
OneShildt Financial Planning

 

 

 

Events Calendar

September  2017
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30